Allah Is My GOD, Islam Is My Religion, Muhammad Is My Prophet, Quran Is My Book. Alhamdulillah

Senin, 30 April 2012

WAWASAN NUSANTARA


WAWASAN NUSANTARA
Pengantar
Dalam sebuah negera ada syarat yang harus dimiliki secara mutlak  yaitu wilayah kedaulatan Konsep dasar wilayah negara kepulauan telah diletakkan melalui Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Ada bangsa yang secara eksplisit mempunyai cara bagaimana ia memandang tanah airnya beserta lingkungannya. Cara pandang itu biasa dinamakan wawasan nasional. Sebagai contoh, Inggris dengan pandangan nasionalnya berbunyi: “Brittain rules the waves”. Ini berarti tanah Inggris bukan hanya sebatas pulaunya, tetapi juga lautnya. Tetapi cukup banyak juga negara yang tidak mempunyai wawasan, seperti: Thailand, Perancis, Myanmar dan sebagainya. Indonesia sendiri memilikinya. Lalau apa sebenernya wawasan nusantara itu.


 Pengertian Wawasan Nusantara
Istilah wawasan nusantara berasal dari kata wawas yang berarti pandangan, tinjauan, atau penglihatan inderawi. Istilah wawasan berarti cara pandang, cara tinjau, atau cara melihat. Sedangkan istilah nusantara berasal dari kata “nusa” yang berarti pulau-pulau, dan “antara” yang berati diapit di antara dua hal. Secara unum wawasan nasional berarti cara pandang suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya yang dijabarkan dari dasar falsafah dan sejarah bangsa itu sesuai dengan posisi dan kondisi geografi negaranya untuk mencapai tujuan atau cita-cita nasionalnya. Wawasan nusantara mempunyai arti cara pandang bangsa Indonesia  tentang diri dan lingkungannya berdasarkan pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan geografi wilayah nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasionalnya. (Tim Dosen UGM)
Latar Belakang
Falsafah pancasila
Nilai-nilai pancasila mendasari pengembangan wawasan nasional. Nilai-nilai tersebut adalah:
  • Penerapan Hak Asasi Manusia (HAM), seperti memberi kesempatan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing.
  • Mengutamakan kepentingan masyarakat daripada individu dan golongan.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
Aspek Kewilayahan Nusantara
Indonesia mempunyai wilayah yang sangat cukup luas yang dimulai dari Nol kilometer yang terletak di Sabang (Aceh) sampai meuroke (Papua), Geografi yang terdapat Indonesia merupakan sesuatu yang sangat berharga. Indonesia merupakan negara yang berbeda dengan negara lain, sebab Indonesia mempunyai beberapa keanekaragaman baik itu flora, fauna, adat istiadat yang sangat beraneka ragam, serta masyarakatnya yang selalu bertoleransi.
Aspek Sosial Budaya
Jenis Budaya yang ada di Indonesia beraneka ragam, setiap daerah yang ada di Indonesia mempunyai budaya, Sampai saat ini budaya tersebut masih tetap di lestarikan dan terus di jaga.
Aspek Sejarah
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki sejarah yang sangat banyak dan beraneka ragam. Mulai dari Indonesia di jaman jajahan, jaman perjuangan, sampai jaman kemerdekaan. Sejarah yang timbul dari abad-abad yang lalu. Hingga sampai kini sejarah tersebut terus dijaga dan dilestarikan, kerna Negara yang baik adalah negera yang yang menghargai sejarahnya.
Ruang Lingkup wawasannusantara
Ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara dalam TAP MPR 1983 dalam mendapat tujuan pembangunan nasionsal : 
·       Kesatuan Politik
·       Kesatuan Ekonomi
·       Kesatuan Sosial Budaya
·       Kesatuan Pertahanan Keamanan
Fungsi 
  • Wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional, yaitu wawasan nusantara dijadikan konsep dalam pembangunan nasional, pertahanan keamanan, dan kewilayahan.
  • Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan mempunyai cakupan kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial dan ekonomi, kesatuan sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
  • Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan negara merupakan pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
  • Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan, sehingga berfungsi dalam pembatasan negara, agar tidak terjadi sengketa dengan negara tetangga.
Unsur
Ada beberap unsure yang terdapt dalam wawasan nusantara yaitu :
·       Wadah
·       Isi
·       Tata Perilaku
·       Hakekat Wawasan nusantara
Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari wawasan nusantara ini adalah untuk :
  • Mempererat rasa persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia. Serta menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, sebagai hak milik bangsa dan negara Indonesia.
·         Mampu melindungi negara Indonesia apabila sewaktu waktu terjadi suatu permasalahan.
·          Menghilangkan perbedaan yang ada di negara Indonesia.
Landasan
Didalam wawasan nusantara hanya ada dua landasan yakni pancasila dan UUD 1945 ( undang-undang dasar 1945). Tapi landasan yang paling utama yakni "Pancasila". Sebab pancasila merupakan bukti nyata perjuangan rakyat Indonesia di saat merebut kemerdekaan dari para penjajah. Undang-Undang dasar 1945 juga mempunyai keterkaitan yang penting, sebab UUD 1945 yang mempunyai beberapa aturan penting, untuk menuntun serta melindungi bangsa dan negara Indonesia dari ancaman apapun itu.
Asas
Didalam wawasan nusantara mempunyai beberapa asas yang menurut saya penting yakni :
  • Asas persatuan dan kesatuan
  • Asas keadilan
  • Asas kebersamaan
Arah Pandang
Arah pandang yang terjadi di dalam wawasan nusantara adalah meruupakan suatu kebersamaan yang terjalin dengan untuh, padahal perbedaan tersebut sering sekali muncul. Dengan persatuan dan kesatuan serta berpegang teguh pada Bhineka Tunggal Ika, secara langsung perbedaan ini akan hilang begitu saja, seiring dengan berjalannya waktu. Semua orang mempunyai arah pandang yang berbeda, tapi arah pandang untuk mempersatukan nusantara ini hanya ada satu, karena dengan adanya wawasan nusantara secara langsung dapat mempersatukan seluruh rakyat Indonesia yang ada dari semua daerah, walaupun besarnya perbedaan yang muncul.


Sumarsono, dkk., 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. PT Sun, Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_Nusantara
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/paham-kekuasaan-dan-geopolitik/

Jumat, 30 Maret 2012

TANDA-TANDA KIAMAT


Kiamat yang sering kita dengar dari berbagai sumber memang kadang-kadang membuat kita takut, bagaimana tidak takut gambaran kiamat yang sangat menakutkan tentu membuat nyali siapun akan ciut. Sebenarnya kiamat sudah sering kita saksikan dalam kehipan sehari-hari, seperti kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa, adanya pesawat jatuh, adanya pembunuhan yang dilakukan oleh orang jalim kepada mereka yang tak berdosa, atau bahkan peristiwa yang sangat menggemparkan dunia yaitu runtuhnya gedung wtc pantegon. Semua itu merupakan kiamat bagi kita yang merasa kehilangan, namun itu hanyalah kiamat kecil atau sering kita sebut kiamat suqra.  Lalu apakah kiamat seperti film  yang di buat oleh R. E. sama sekali bukan itu hanya sepenggal kisah yang terinspirasi dari cerita Nabi Nuh Alaihis salam.
Kiamat yang kita bicarakan ini adalah kiamat qubra dimana jika terjadi hari kiamat ini maka tak ada satu makhlukpun yang bisa selamat. Namun untuk mnegetahui kiamat tersebut bagaimana kita bisa mengenalnya ? haruskan pakai penanggalan suku maya? Oh no! bukan itu tetapi karena kita umat islam tentu kita sudah tahu apa kira-kira tanda-tanda hari kiamat itu.  Kalo kita bicarakan hal ini tentu butuh waktu yang sangat panjang namun mari kita lihat salah satu bukti nyata dari hadist Nabi.  Proses hari kiamat itu akan terjadi bila islam sudah terasa asing bagi orang lain juga bagi pemeluknya sendiri.
a.   Lenyapnya pengetahuan tentang agama islam
Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan yang asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh penganutnya. Ketika baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mula-mula menyebarkan Islam kira-kira 1400 tahun yang lalu di Mekah, masyarakat Arab jahilliyah ketika itu juga menganggap bahawa apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah sesuatu yang dagang, pelik, asing dan mereka tidak menerimanya.   Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka supaya meninggalkan penyembahan berhala kepada menyembah Allah yang Esa. Sirah perjalanan hidup dan perjalanan Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu sentiasa diteliti dan diteladani. Kronologi perjalanannya yang berpandukan wahyu Ilahi menjadikan Islam satu-satunya agama yang sesuai dan padan untuk dipraktikkan dalam setiap masa, zaman dan keadaan. Dalam kegawatan masyarakat arab jahiliyyah dan keruntuhan akhlak yang amat dahsyat, lahirnya utusan yang digelar Al-Amin, yang bakal merubah segalanya, dialah Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dicintai. Perjuangan Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam diawalnya amat perit dan pedih, seribu satu dugaan dan kecaman terpaksa diharungi oleh Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat-sahabat r.a demi mengeluarkan masyarakat daripada kegelapan kepada cahaya kebenaran. Pembawakan Islam pada ketika itu jauh berbeza dengan kehidupan sosial penduduk apatah lagi pembesar-membesar mereka. Tentangan demi tentangan dilontarkan dek kerana kepelikan ajaran Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu itu.
Permulaan Islam itu adalah dagang dan asing, bahkan ia akan kembali asing. Baginda saw bersabda :
بداء الإسلام غريبا فسيعود غريبا كما بداء فطوبى للغرباء
Maksudnya: Islam mula tersebar dalam keadaan dagang ( asing) , dan ia akan kembali asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing. ( H.R. Muslim)
Imam ibnu Majah dalam sohehnya mentakrifkan “Al-gharib” iaitu asing dengan maksud “alba`id an wathon” iaitu jauh daripada negeri. Dapat difahami di sini adalah islam pada waktu itu seakan-akan satu ajaran dan budaya baru yang cuba dibawa masuk oleh Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam kebumi arab yang mana ajarannya tidak ada yang sama dengan budaya dan adat yang sedia ada malahan bercanggah terus dengan kehidupan penduduk arab pada ketika itu, walhal ianya adalah cara hidup yang seafdhalnya. Lumrahnya pastilah dimana-mana tempat sekalipun agak sukar untuk menerima perkara baru dalam hidup walau kebenaran sekalipun apatah lagi jika ianya dibawa oleh orang yang tak dikenali dan akan menggugat kedudukan mereka yang berpangkat. Hasilnya sepertimana telah dijelaskan pada awal mukaddimah di atas, Baginda saw mendapat tentangan yang hebat terutama dari golongan pembesar Quraisy yang mempelopor takhta pada zaman tersebut, dakwah hanya Berjaya dikalangan orang bawahan sahaja.
Namun, keyakinan Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat r.a. terhadap janji Allah ta`ala mengatasi segalanya. Buktinya, Islam berjaya menguasai dua pertiga dunia. Kepayahan dan keperitan dilalui baginda saw membuahkan hasil yang sangat lumayan. Islam adalah agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi darinya.

Firman Allah : Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai agama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya; (perselisihan itu pula) semata-mata kerana hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka dan (ingatlah), sesiapa yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah Amat segera hitungan hisabNya.“(Ali-Imran: 19).
Kesyumulan dan keadilan Islam menjadikan ia realistik dan praktik untuk seluruh umat. Dari zaman Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti zaman khulafa`rashidin, umawiyyah, abbasiyyah dan uthmaniyyah, kesemua zaman ini berjaya menidakkan dakyah-dakyah kristian dan yahudi. Ulama-ulama`islam bertebaran keseluruh dunia
Islam kini kembali seperti asalnya, seolah-olah agama ini tidak pernah wujud dimuka bumi ini, Islam sudah tentu dicemuh dan asing dimata musuh-musuhnya, bahkan lebih dari itu, Islam dianggap asing dikalangan orang Islam itu sendiri! Apa sudah terjadi ? Begitulah realitinya. Sebahagian daripada orang islam merasa ganjil dan pelik apabila melihat orang Islam yang iltizam (komitmen) dengan Islam dan cuba mengamalkan tuntutan Islam yang sebenar. Seorang yang komitmen dengan Islam dipandang sepi oleh masyarakat dan terlalu susah untuk diterima sebagai individu yang sihat, sebagai contoh kalau ada sesuatu program kemasyarakatan kemudian masuk waktu solat, tiba-tiba ada seorang yang meminta diri untuk menunaikan solat, maka tindakan itu dianggap tidak sopan dan kurang wajar.
Lenyapnay pengetahuan tentang agama islam dan pengamalannya,  adalah suatu bencana, lihat upaya orang orang yang tidak suka islam, selalu membantai warga islam menjalami, membunuh, merampas hak-hak meraka. Ingatlah bahwa semakin mundurnya islam, semakin hilangnya ilmu tentang islam, semakin sedikitnya orang melakukan amalan shaleh, semakin sedikitnya ulama shaleh, Maka Kiamat itu semakin dekat.
b.  Datangnya Zaman tak berhati nurani, coba saudara lihat betapa kejamnya mereka membatai orang-orang yang tak berdosa, mereka kobarkan perperangan, pembunuhan pertumpahdarahan, manusia tak behati nurani.
c.   Datangya kaum yang lebih jahat daripada kaum sebelumnya.
d.  Perang tak terhindarkan,,, irak, palistine sebagai contoh nyata.
e.   Tiada waktu tanpa dosa
f.   Perbuatan tidak sesuai dengan perkataan.
g.   Suatu masa orang lebih sibuk mengurus urusan orang lain.
h.  Muncul kekacauaan

Sumber
Alquran Alhuda Tiga Bahasa Jakarta Gema Insane Press
Rofiin M. 2011 Ramalan-ramalan nibi yang sudah menjadi kenyataan Jakarta Najah



Sabtu, 25 Februari 2012

RUSIA MENUJU AGAMA ILAHI


ketika kita mendengar rusia tentu terbayang tentu terbayang pada kita tentang sebuah negara yang dulunya besar atau kita langsung terbayang dengan uni soviet. Ya Rusia merupakan salah satu Negara pecahan dari uni soviet. Namun pernahkan saudar tahu tentang suatu hal yang lebih penting yaitu pekembangan agama islam di sana. Para pakar yang berkonsentrasi pada wilayah Asia tengah, memprediksikan Rusia akan berubah menjadi negara Islam di sekitar tahun 2050 nanti. Mereka berharap negara seperti Mesir terus merangkul negara-negara persemakmuran Rusia yang berpenduduk muslim yang mencintai serta menjaga nilai-nilai Islam dan budaya Arab. Dari negara mereka telah lahir para ulama ternama di berbagai bidang ilmu keislaman, seperti Imam Bukhari dan Tirmizi, serta ulama lainnya yang banyak memberikan pengaruh dan kontribusi kepada dunia Islam.


Muhammad Salamah, spesialis Asia Tengah dan negara persemakmuran Rusia dalam seminar di Markas Kebudayaan Abdul Mun’im Al Showi di Kairo dengan tema, “Negeri Imam Bukhari dan Kekayaan yang Terpendam di dalamnya” mengatakan, puluhan pengkaji akademisi di Rusia telah menyimpulkan, berdasarkan perkembangan yang terlihat dari negara-negara muslim pecahan Uni Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti negara Rusia diprediksikan akan menjadi bagian dari negara Islam

Perkembangan itu secara signifikan terjadi di Rusia, dari segi populasi misalnya, jumlah muslim di Rusia kini mencapai 25 juta jiwa, yaitu 20% dari jumlah total penduduk. Para cendikiawan gereja Ortodox yang berada di negeri itu pun dikabarkan merasa khawatir, melihat perkembangan Islam yang begitu pesat, mereka bahkan menyebut Islam sebagai agama yang mengancam esksistensi agama mereka di sana.

Salamah kemudian menambahkan, sejak 20 tahun lalu dirinya terus mengamati perkembangan Islam di Rusia, semenjak muslim di sana berada di bawah pemerintahan yang komunis dan mengalami masa-masa pengekangan, seperti dilarangnya membawa mushaf Al Qur’an, masjid-masjid di tutup, hingga akhirnya sekarang, muslim Rusia telah mendapatkan hak-hak mereka dengan baik. Dan Islam pun kini menjadi agama kedua di negeri itu.

Salamah kemudian bercerita tentang upayanya menyebarkan Islam, ia mendirikan sebuah Universitas Islam di Moskow, dan mengajarkan tentang apa itu agama Islam, termasuk kepada para politisi senior negeri itu, diantaranya adalah Pladimar Putin, Perdana Menteri Rusia sekarang.

Dubes Mesir untuk Tajikistan; sebuah negara muslim pecahan Uni Soviet kemudian menceritakan akan semangatnya nilai keislaman di sana, diantaranya dengan diadakannya perayaan hari kelahiran Imam Abu Hanifah pada tahun 2009 lalu, pemerintah setempat kemudian mengundang para ulama dari berbagai negara anggota OKI yang dipimpin langsung oleh Syeikh Al Azhar, mereka kemudian dijamu langsung oleh Presiden Tajik, Ali Rakhmonov.(eramuslim.com)

RUSIA, Dagestan Negeri Islam
Menurut The Caspian Sea Encyclopedia (Igor S. Zonn), nama Dagestan berasal dari bahasa Turki. Dag berarti "gunung" dan stan adalah imbuhan Persia yang berarti "daratan." Maka Dagestan memiliki arti "daratan (tempat) gunung-gunung. Dagestan adalah sebuah kawasan yang memiliki keragaman etnis yang kaya, dengan puluhan kelompok etnis dan subetnis hidup di dalamnya. Amri Shikhsaidov dalam situs www.ca-c.org mengutip pandangan umum yang menyebut negara tersebut dihuni oleh lebih dari 30 kebangsaan.sebanyak 90,6 persen populasi Dagestan adalah Muslim, sementara Kristen dipeluk oleh 9,4 persen sisanya. Data lainnya menyebutkan, terdapat sejumlah kecil pemeluk agama Yahudi di negara tersebut. (Data Wikipedia)

              Menurut Amri Shikhsaidov (profesor dan ketua Departemen Naskah Oriental pada Institut Sejarah, Arkeologi, and Etnografi, Dagestani Scientific Center) menuliskan, Islam telah menjadi satu dari sejumlah faktor penting dan berpengaruh bagi kehidupan sosial politik di Dagestan. Ia bahkan menekankan dalam tulisannya, Islam in Dagestan, berbagai situasi di negara itu tidak lagi dapat dipahami di luar konteks agama. Ilmuwan politik menggambarkan Dagestan sebagai republik yang paling terislamkan di antara negara-negara federasi Rusia. Dan Shikhsaidov mengatakan pernyataan itu tidak berlebihan.
Proses islamisasi di kawasan Dagestan dimulai sejak sekitar 1.000 tahun yang lalu, di sebuah wilayah kecil di Kaukasus timur laut. Pada abad ke-16, Islam menyandang status sebagai agama resmi di seluruh wilayah Dagestan, termasuk bagi berbagai aliansi masyararakat pedesaan di negara tersebut. Hal itu dimungkinkan oleh kegigihan pasukan asing dari Arab, Turki (terutama Turki Seljuk), Mongol, Persia, dan lainnya dalam memberlakukan kebijakan islamisasi. Hasilnya adalah berdirinya sekolah-sekolah Syafi'i dan Sunni di Dagestan.


           Shikhsaidov menambahkan, fakta penting lainnya yang harus diakui adalah bahwa Sufisme telah menjadi sebentuk keseharian di negara tersebut. Dalam sejarah bangsa Dagestan, Islam menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka. Hal itu paling jelas terlihat pada abad 19, yakni dalam perjuangan pembebasan yang dipimpin Shamil (ulama-mujahid yang hidup antara 1797 hingga Maret 1871), serta pemberontakan pada 1877.( REPUBLIKA.CO.ID)

Sejarah Dagestan mencatat awal tahun 1980-an hingga abad 20 sebagai era kejayaan atheisme. Pada masa itulah nilai-nilai dan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan agama ditolak. Penolakan itu berakibat runtuhnya kebudayaan berbasis agama di Dagestan, serta tercabutnya akar agama itu sendiri.Kala itu, penguasa Rusia meninggalkan praktik-praktik ritual dan pendidikan Islam, serta hanya sedikit mencampuri sistem peradilan (yang mempertahankan masjid-masjid, sekolah-sekolah umum/agama, dan pengadilan syariah). Di masa yang sama, formasi sosial-ekonomi yang baru mulai dibentuk pada Oktober 1917. Formasi itu memperkecil peradaban Islam dan menyingkirkannya secara keseluruhan dari lingkungan negara, kehidupan ekonomi politik, dan keseharian serta praktik-praktik ritual masyarakat Dagestan.


Terbentuknya Pemerintahan Soviet menandai sebuah sikap baru terhadap agama. Bolsheviks (faksi dari sebuah partai Rusia berpaham Marxisme) menekan para ulama dan menutup masjid serta madrasah. Menurut informasi yang dikutip Shikhsaidov, sebelum revolusi, Dagestan memiliki sekitar 10.000 sekolah Muslim yang berfungsi. Jumlah tersebut mencakup 2.311 madrasah resmi, 1.700 masjid, 5.000 orang mullah, dan 7.000 muta'allim(siswa Islam). Masjid-masjid memiliki sekitar 35-100 hektar tanah wakaf. Pada 1988, hanya tersisa sekitar 27 masjid yang berfungsi dan, menurut statistik resmi, tidak satu pun madrasah atau maktab tersisa. Tidak pula institusi pelatihan ulama atapun sekolah Alquran dan bahasa Arab. Sekolah-sekolah Muslim di sejumlah desa di Dagestan (terutama di Aar, Dargin, dan distrik-distrik Kumyk) yang bertahan mengajarkan Alquran dan bahasa Arab secara sembunyi-sembunyi.Lalu, pengesahan hukum tentang Kebebasan Organisasi Hati Nurani dan Agama oleh USSR Soviet pada 1990 dan oleh Soviet Republik Dagestan pada Mei 1991 membuka tahap baru proses re-islamisasi negara tersebut. Proses itu ditandai oleh pembukaan bangunan-bangunan agama.Juli 1995, terdapat 25 madrasah pendidikan ulama dan 1270 masjid di Dagestan. Lebih dari 850 diantara masjid-masjid itu resmi dan terdaftar. Bersama bangunan masjid-masjid itu, ada 650 sekolah dan kelompok Islam yang melatih pemuda tentang dasar-dasar agama, ditambah 2.200 imam dan muazin. Subhanallah.(era muslim)



Minggu, 19 Februari 2012

TOKOH-TOKOH ISLAM PENGUBAH DUNIA




Sejak islam lahir di dalam peradaban manusia sudah mulai terlihat akan kebenarannya. Kedatangan agama islam yang menjadi rahmat bagi semua mahkluk. Kejayaan islam tersebut merupakan sebuah modal bagi sebuah peradaban yang tebaik serta nabi manusia terbaik sepanjang masa. Islam yang lahir di dunia belahan timur namun wilayah kebuasaannya yang membentang dari timur ke barat. Serta peninggalan besejarah  yang mempunyai nilai tinggi. Salah satu peninggalan yang paling terpenting adalah pemikiran. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa peradaban islam memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan  ilmu pengetahuan  dan pemikiran dunia. Sejak terjadianya perang salib bagitu banyak pustaka yang dibakar orang-orang kafir. Air sungai menjadi hitam kerna abubuku dan kitab-kitab dibakar oleh orang-orang kaum salib. Namun  perlu anda ketahui bahwa tidak semua buku tersebut di bakar akan tetapi banyak kitab-kitab yang mereka bawa dan terjemahkan dalam bahasa mereka sehingga seolah-olah mereka yang mempunyai pemikiran tesebut.  sekarang ini nama-nama para pemikir islam tersebut tidak begitu populer bahkan dalam kalangan umat islam sendiri. Padahal banyak dari mereka yang menjadi rujukan ilmuan Barat Modern.
1.      Ibnu Sina
Dengan gelar  julukan “Syeikhur Rais”  Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Semenjak masih  masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.
Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya. Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian ;


“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antar kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk,  penguasa Hamedan,  tak menghalangi  beliau  untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.
 Ketika  berada di  istana dan  hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-Syifa’.  Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.


Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi,
tab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa. Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”
Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya. Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.
Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

2.     Abu raihan al-biruni
 Sungguh tak diragukan lagi di pentas sains dan ilmu pengetahuan abad pertengahan. Dunia sains mengenalnya sebagai salah seorang putra Islam terbaik dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, dan fisika. Wawasan pengetahuannya yang demikian luas, menempatkannya sebagai pakar dan ilmuwan Muslim terbesar awal abad pertengahan. Ilmuwan itu tak lain adalah Al-Biruni. Bernama lengkap Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ilmuwan besar ini dilahirkan pada bulan September tahun 973 M, di daerah Khawarizm, Turkmenistan. Ia lebih dikenal dengan nama Al-Biruni. Nama “Al-Biruni” sendiri berarti ‘asing’, yang dinisbahkan kepada wilayah tempat tanah kelahirannya, yakni Turkmenistan. Kala itu, wilayah ini memang dikhususkan menjadi pemukiman bagi orang-orang asing.
Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Al-Biruni tumbuh dan besar dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Tak seperti kebanyakan ilmuwan Muslim lainnya, masa muda Al-Biruni tak banyak terlacak oleh sejarah. Meski demikian, dari beberapa literatur diketahui, ilmuwan besar ini memperoleh pendidikan dasarnya dari beberapa ulama ternama di masanya, antara lain Syeikh Abdus Shamad bin Abdus Shamad. Di bidang kedokteran, ia belajar pada Abul Wafa’ Al-Buzayani, serta kepada Abu Nasr Mansur bin Ali bin Iraq untuk ilmu pasti dan astronomi. Tak heran bila ulama tawadlu dan gemar baca-tulis ini sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu sejak usia muda.
Sebagai ilmuwan ulung, Al-Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu, termasuk dalam setiap penjelajahannya ke beberapa negeri, seperti ke Iran dan India. Jamil Ahmed dalam Seratus Tokoh Muslim mengungkapkan, penjelajahan paling terkesan tokoh ini adalah ke daerah Jurjan, dekat Laut Kaspia (Asia Tengah), serta ke wilayah India. Penjelajahan itu sebenarnya tak disengaja. Alkisah, setelah beberapa lamanya menetap di Jurjan, Al-Biruni memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun tak disangkanya, ia menyaksikan tanah kelahirannya itu penuh konflik antaretnis. Kenyataan ini dimanfaatkan oleh Sultan Mahmoud Al-Gezna, yang melakukan invasi dan menaklukkan Jurjan.
Keberhasilan penaklukkan ini membawa Al-Biruni melanglang ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud. Di sini, ia banyak menelorkan karya tulis, baik berupa buku maupun artikel ilmiah yang disampaikannya dalam beberapa pertemuan. Selain menghasilkan karya, penjelajahan bersama sang Sultan ini juga menghasilkan dibukanya kawasan India bagian timur sebagai basis baru dakwah Islam Al-Biruni.
Dalam rangkaian ‘tur’ nya di India ini, Al-Biruni memanfaatkan waktu luang bagi penelitian sekitar adat istiadat dan perilaku masyarakat setempat. Dari penelitiannya inilah, beberapa karya berbobot lahir (lihat boks). Tak hanya itu, Al-Biruni pula yang pertama memperkenalkan permainan catur ‘ala’ India ke negeri-negeri Islam, serta menjelaskan problem-problem trigonometri lanjutan dalam karyanya, Tahqiq Al-Hind. Dalam kaitan ini, ia berkata, “Saya telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dua karya India, yakni Sankhya, yang mengupas tentang asal-usul dan kualitas benda-benda yang memiliki eksistensi, dan kedua berjudul Patanial (Yoga Sutra), yang berhubungan dengan pembebasan jiwa.” Kedua buku India ini juga memuat secara otentik sejarah akurat invasi Sultan Mahmoud ke India.
Kepiawaian dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Ia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak bumi mengitari matahari. Sayangnya, bukunya yang membicarakan soal ini hilang. Namun ia berpendapat, seperti pernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina, bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet. Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.
Sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis, kepakaran Al-Biruni tak hanya di bidang ilmu eksakta. Ia juga mahir dalam disiplin filsafat. Karena itu, ia dikenal sebagai salah seorang filsuf Muslim yang amat berpengaruh. Pemikiran filsafat Al-Biruni banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Al-Farabi, Al-Kindi, dan Al-Mas’udi (w. 956 M). Hidup sezaman dengan filsuf besar dan pakar kedokteran Muslim, Ibnu Sina, Al-Biruni banyak berdiskusi dengan Ibnu Sina, baik secara langsung maupun melalui surat menyurat. Keduanya tak jarang terlibat debat sekitar pemikiran filsafat. Ia misalnya menentang aliran paripatetik yang dianut oleh Ibnu Sina dalam banyak aspek. Al-Biruni memperlihatkan ketidaktergantungan yang agak besar terhadap filsafat Aristoteles dan kritis terhadap beberapa hal dalam fisika paripatetik, seperti dalam masalah gerak dan tempat.
Semua yang dilakukannya itu selalu ia landaskan pada prinsip-prinsip Islam, serta meletakkan sains sebagai sarana untuk menyingkap rahasia alam. Hasil eksperimen dan penelitiannya selalu bermuara pada pengakuan keberadaan Sang Pencipta (Allah). Ketika seorang ilmuwan, katanya, akan memutuskan untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan, dia harus menyelidiki dan mempelajari alam.
Kalau pun ia tidak membutuhkan hal ini, maka ia perlu berpikir tentang hukum alam yang mengatur cara-cara kerja alam semesta. Ini akan dapat mengarahkannya untuk mengetahui kebenaran dan membuka jalan baginya untuk mengetahui Wujud yang mengaturnya. Dalam bukunya Al-Jamahir, Al-Biruni juga menegaskan,
”penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya.
Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah.” Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya. Pandangan Al-Biruni ini berbeda sekali dengan pandangan saintis Barat modern yang melepaskan sains dari agama. Pandangan mereka tentang alam berusaha menafikan keberadaan Allah sebagai pencipta.
Keberhasilan Al-Biruni di bidang sains dan ilmu pengetahuan ini membuat decak kagum kalangan Barat. Max Mayerhof misalnya mengatakan, “Abu Raihan Muhammad ibn Al-Biruni dijuluki Master, dokter, astronom, matematikawan, ahli fisika, ahli geografi, dan sejarahwan. Dia mungkin sosok paling menonjol di seluruh bimasakti para ahli terpelajar sejagat, yang memacu zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam.” Pengakuan senada juga dilontarkan sejarahwan asal India, Si JN Sircar. Seperti dikutip Jamal Ahmed, ia menulis, “Hanya sedikit yang memahami fisika dan matematika. Di antara yang sedikit itu yang terbesar di Asia adalah Al-Biruni, sekaligus filsuf dan ilmuwan. Ia unggul sekaligus di kedua bidang tersebut.” Tokoh dan ilmuwan besar ini akhirnya menghadap Sang Ilahi Rabbi pada 1048 M, dalam usia 75 tahun.

Karya-Karnyanya
Al-Biruni juga dikenal sebagai penulis dan pemikir yang produktif. Menariknya lagi, sebagian karya-karyanya tersebut dihasilkan ketika berpetualang ke beberapa negeri. Menurut sumber-sumber otentik, karya Al-Biruni lebih dari 200 buah, namun hanya sekitar 180 saja yang diketahui dan terlacak. Beberapa di antara bukunya terbilang sebagai karya monumental. Seperti buku Al-Atsarul Baqiyah ‘anil Qurunil Khaliyah (Peninggalan Bangsa-bangsa Kuno) yang ditulisnya pada 998 M ketika ia merantau ke Jurjan, daerah tenggara Laut Kaspia. Dalam karyanya tersebut, Al-Biruni antara lain mengupas sekitar upacara-upacara ritual, pesta, dan
festival bangsa-bangsa kuno.
Masih dalam lingkup yang sama, Al-Biruni tak menyia-nyiakan kesempatan beberapa ekspedisi militer ke India bersama Sultan Mahmoud Gezna. Ia pergunakan lawatannya tersebut dengan melakukan penelitian seputar adat istiadat, agama, dan kepercayaan masyarakat India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Jerih payahnya inilah menghasilkan karya besar berjudul Tarikhul Al-Hindy (Sejarah India) tahun 1030 M. Intelektual Iran, Sayyed Hossein Nasr, dalam Science and Civilization in Islam (1968), menyatakan, buku ini merupakan uraian paling lengkap dan terbaik mengenai agama Hindu, sains, dan adat istiadat India.
Al-Biruni, dalam karyanya ini antara lain menulis analisis menarik, bahwa pada awalnya manusia mempunyai keyakinan monoteisme, penuh kebaikan dan menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tapi, lantaran nafsu murka telah membawa mereka pada perbedaan agama, filsafat, dan politik, sehingga mereka menyimpang dari monoteisme ini. Ia juga membahas tentang geografi India. Al-Biruni juga berpendapat, lembah Sungai Hindus dan India, mulanya terbenam dalam laut, namun perlahan menjadi penuh endapan yang dibawa air sungai.
Tak hanya menulis buku tentang sosiologi, Al-Biruni juga banyak menulis tentang ilmu-ilmu eksakta seperti geometri, aritmatika, astronomi, dan astrologi. Karya di bidang ini misalnya Tafhim li Awa’il Sina’atut Tanjim. Khusus disiplin ilmu astronomi, ia menulis buku berjudul Al-Qanun Al-Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum (Teori tentang Perbintangan). Di Barat, buku ini memperoleh penghargaan dan menjadi bacaan standar di berbagai universitas Barat selama beberapa abad. Ilmuwan Muslim ini juga dikenal sebagai pengamat pertambangan. Untuk masalah ini, ia menulis buku Al-Jamahir fi Ma’rifatil Jawahir tahun 1041 M.

3.      JABIR Bin Hayyan
Orang yang  sejatinya orang pertama yang menemukan ilmu eksakta tersebut. Adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia.Lahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai 'syuhada' demi penyebaran ajaran Syi'ah. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.
Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masamasa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.
Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “. 
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.
Teori Jabir
Pada perkembangan berikutnya, Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi.
Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran.
Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Jabir tetap saja seorang yang tawadlu' dan berkepribadian mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar," tulis Robert Briffault.
Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.
Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai 'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karyakarya Jabir Ibnu Hayyan.
Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah  (Rongga Dada Kearifan) .
Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul SummaPerfecdonis.
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: "Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagianbagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."
Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:
*        Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida, 
*        Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan 
*        Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.
Sampai abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Sementara buku kedua Kitab Al Sab'een, diterjemahkan oleh Gerard Cremona.
Berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.
Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al TajmiAl Zilaq al SharqiBook of The KingdomBook of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas 'berterima kasih' padanya

Refrensi :
1.      12 tokoh pengubah dunia, Haddad, 2009. Jakarta Gema Insani
2.     Seri Tokoh Muslim Mereka Yang menguki sejarah. Shiddiq Rosyad. Pt. cita Putra Bangsa

Entri Populer