Allah Is My GOD, Islam Is My Religion, Muhammad Is My Prophet, Quran Is My Book. Alhamdulillah

Sabtu, 25 Februari 2012

RUSIA MENUJU AGAMA ILAHI


ketika kita mendengar rusia tentu terbayang tentu terbayang pada kita tentang sebuah negara yang dulunya besar atau kita langsung terbayang dengan uni soviet. Ya Rusia merupakan salah satu Negara pecahan dari uni soviet. Namun pernahkan saudar tahu tentang suatu hal yang lebih penting yaitu pekembangan agama islam di sana. Para pakar yang berkonsentrasi pada wilayah Asia tengah, memprediksikan Rusia akan berubah menjadi negara Islam di sekitar tahun 2050 nanti. Mereka berharap negara seperti Mesir terus merangkul negara-negara persemakmuran Rusia yang berpenduduk muslim yang mencintai serta menjaga nilai-nilai Islam dan budaya Arab. Dari negara mereka telah lahir para ulama ternama di berbagai bidang ilmu keislaman, seperti Imam Bukhari dan Tirmizi, serta ulama lainnya yang banyak memberikan pengaruh dan kontribusi kepada dunia Islam.


Muhammad Salamah, spesialis Asia Tengah dan negara persemakmuran Rusia dalam seminar di Markas Kebudayaan Abdul Mun’im Al Showi di Kairo dengan tema, “Negeri Imam Bukhari dan Kekayaan yang Terpendam di dalamnya” mengatakan, puluhan pengkaji akademisi di Rusia telah menyimpulkan, berdasarkan perkembangan yang terlihat dari negara-negara muslim pecahan Uni Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti negara Rusia diprediksikan akan menjadi bagian dari negara Islam

Perkembangan itu secara signifikan terjadi di Rusia, dari segi populasi misalnya, jumlah muslim di Rusia kini mencapai 25 juta jiwa, yaitu 20% dari jumlah total penduduk. Para cendikiawan gereja Ortodox yang berada di negeri itu pun dikabarkan merasa khawatir, melihat perkembangan Islam yang begitu pesat, mereka bahkan menyebut Islam sebagai agama yang mengancam esksistensi agama mereka di sana.

Salamah kemudian menambahkan, sejak 20 tahun lalu dirinya terus mengamati perkembangan Islam di Rusia, semenjak muslim di sana berada di bawah pemerintahan yang komunis dan mengalami masa-masa pengekangan, seperti dilarangnya membawa mushaf Al Qur’an, masjid-masjid di tutup, hingga akhirnya sekarang, muslim Rusia telah mendapatkan hak-hak mereka dengan baik. Dan Islam pun kini menjadi agama kedua di negeri itu.

Salamah kemudian bercerita tentang upayanya menyebarkan Islam, ia mendirikan sebuah Universitas Islam di Moskow, dan mengajarkan tentang apa itu agama Islam, termasuk kepada para politisi senior negeri itu, diantaranya adalah Pladimar Putin, Perdana Menteri Rusia sekarang.

Dubes Mesir untuk Tajikistan; sebuah negara muslim pecahan Uni Soviet kemudian menceritakan akan semangatnya nilai keislaman di sana, diantaranya dengan diadakannya perayaan hari kelahiran Imam Abu Hanifah pada tahun 2009 lalu, pemerintah setempat kemudian mengundang para ulama dari berbagai negara anggota OKI yang dipimpin langsung oleh Syeikh Al Azhar, mereka kemudian dijamu langsung oleh Presiden Tajik, Ali Rakhmonov.(eramuslim.com)

RUSIA, Dagestan Negeri Islam
Menurut The Caspian Sea Encyclopedia (Igor S. Zonn), nama Dagestan berasal dari bahasa Turki. Dag berarti "gunung" dan stan adalah imbuhan Persia yang berarti "daratan." Maka Dagestan memiliki arti "daratan (tempat) gunung-gunung. Dagestan adalah sebuah kawasan yang memiliki keragaman etnis yang kaya, dengan puluhan kelompok etnis dan subetnis hidup di dalamnya. Amri Shikhsaidov dalam situs www.ca-c.org mengutip pandangan umum yang menyebut negara tersebut dihuni oleh lebih dari 30 kebangsaan.sebanyak 90,6 persen populasi Dagestan adalah Muslim, sementara Kristen dipeluk oleh 9,4 persen sisanya. Data lainnya menyebutkan, terdapat sejumlah kecil pemeluk agama Yahudi di negara tersebut. (Data Wikipedia)

              Menurut Amri Shikhsaidov (profesor dan ketua Departemen Naskah Oriental pada Institut Sejarah, Arkeologi, and Etnografi, Dagestani Scientific Center) menuliskan, Islam telah menjadi satu dari sejumlah faktor penting dan berpengaruh bagi kehidupan sosial politik di Dagestan. Ia bahkan menekankan dalam tulisannya, Islam in Dagestan, berbagai situasi di negara itu tidak lagi dapat dipahami di luar konteks agama. Ilmuwan politik menggambarkan Dagestan sebagai republik yang paling terislamkan di antara negara-negara federasi Rusia. Dan Shikhsaidov mengatakan pernyataan itu tidak berlebihan.
Proses islamisasi di kawasan Dagestan dimulai sejak sekitar 1.000 tahun yang lalu, di sebuah wilayah kecil di Kaukasus timur laut. Pada abad ke-16, Islam menyandang status sebagai agama resmi di seluruh wilayah Dagestan, termasuk bagi berbagai aliansi masyararakat pedesaan di negara tersebut. Hal itu dimungkinkan oleh kegigihan pasukan asing dari Arab, Turki (terutama Turki Seljuk), Mongol, Persia, dan lainnya dalam memberlakukan kebijakan islamisasi. Hasilnya adalah berdirinya sekolah-sekolah Syafi'i dan Sunni di Dagestan.


           Shikhsaidov menambahkan, fakta penting lainnya yang harus diakui adalah bahwa Sufisme telah menjadi sebentuk keseharian di negara tersebut. Dalam sejarah bangsa Dagestan, Islam menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka. Hal itu paling jelas terlihat pada abad 19, yakni dalam perjuangan pembebasan yang dipimpin Shamil (ulama-mujahid yang hidup antara 1797 hingga Maret 1871), serta pemberontakan pada 1877.( REPUBLIKA.CO.ID)

Sejarah Dagestan mencatat awal tahun 1980-an hingga abad 20 sebagai era kejayaan atheisme. Pada masa itulah nilai-nilai dan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan agama ditolak. Penolakan itu berakibat runtuhnya kebudayaan berbasis agama di Dagestan, serta tercabutnya akar agama itu sendiri.Kala itu, penguasa Rusia meninggalkan praktik-praktik ritual dan pendidikan Islam, serta hanya sedikit mencampuri sistem peradilan (yang mempertahankan masjid-masjid, sekolah-sekolah umum/agama, dan pengadilan syariah). Di masa yang sama, formasi sosial-ekonomi yang baru mulai dibentuk pada Oktober 1917. Formasi itu memperkecil peradaban Islam dan menyingkirkannya secara keseluruhan dari lingkungan negara, kehidupan ekonomi politik, dan keseharian serta praktik-praktik ritual masyarakat Dagestan.


Terbentuknya Pemerintahan Soviet menandai sebuah sikap baru terhadap agama. Bolsheviks (faksi dari sebuah partai Rusia berpaham Marxisme) menekan para ulama dan menutup masjid serta madrasah. Menurut informasi yang dikutip Shikhsaidov, sebelum revolusi, Dagestan memiliki sekitar 10.000 sekolah Muslim yang berfungsi. Jumlah tersebut mencakup 2.311 madrasah resmi, 1.700 masjid, 5.000 orang mullah, dan 7.000 muta'allim(siswa Islam). Masjid-masjid memiliki sekitar 35-100 hektar tanah wakaf. Pada 1988, hanya tersisa sekitar 27 masjid yang berfungsi dan, menurut statistik resmi, tidak satu pun madrasah atau maktab tersisa. Tidak pula institusi pelatihan ulama atapun sekolah Alquran dan bahasa Arab. Sekolah-sekolah Muslim di sejumlah desa di Dagestan (terutama di Aar, Dargin, dan distrik-distrik Kumyk) yang bertahan mengajarkan Alquran dan bahasa Arab secara sembunyi-sembunyi.Lalu, pengesahan hukum tentang Kebebasan Organisasi Hati Nurani dan Agama oleh USSR Soviet pada 1990 dan oleh Soviet Republik Dagestan pada Mei 1991 membuka tahap baru proses re-islamisasi negara tersebut. Proses itu ditandai oleh pembukaan bangunan-bangunan agama.Juli 1995, terdapat 25 madrasah pendidikan ulama dan 1270 masjid di Dagestan. Lebih dari 850 diantara masjid-masjid itu resmi dan terdaftar. Bersama bangunan masjid-masjid itu, ada 650 sekolah dan kelompok Islam yang melatih pemuda tentang dasar-dasar agama, ditambah 2.200 imam dan muazin. Subhanallah.(era muslim)



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Entri Populer